Selasa, 08 Februari 2011

KAKEK DAN PENCURI PEPAYA

Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.
kisah inspirasi kakek dan pencuri pepaya

Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.
“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”
“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”
Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang ditulis oleh ustadz Saiful Amien. Diambil dari http://malang.muhammadiyah.or.id/muhfile/malang/file/artikel/Mengakhlaqkan%20Cara%20Pandang.doc Gambar pohon pepaya dari http://mahaguru58.multiply.com/journal,

Kamis, 17 Juni 2010

AWALNYA KITA TAK MEMILIKI APA-APA


Zaman dulu, ada seorang bangsawan setelah melewati suatu perebutan dan persaingan, akhirnya  berhasil menjadi kaisar suatu kerajaan sesuai dengan apa yang diharapkan. Akan tetapi, dia menemukan bahwa kekuasaan tidak bisa membawa kegembiraan baginya, karena itu dia ingin memiliki harta yang lebih banyak lagi, tetapi berangsur-angsur dia juga menemukan pusaka dan harta semuanya adalah benda-benda di luar tubuh, jika terlalu banyak maka akan tampak vulgar.

Selanjutnya dia berpikir ingin memiliki cinta, tetapi dia menemukan cinta itu bisa luntur, bahkan bisa membawakan kerisauan yang lebih banyak lagi bagi diri sendiri. Pada akhirnya dia berpikir ingin panjang umur, karena itu dia mengutus orang untuk mencari obat yang bisa membuat manusia panjang umur, akan tetapi dengan punuh kekecewaan dia menemukan  bahwa di dunia ini tidak ada obat yang bisa membuat manusia menjadi panjang umurnya.

Dengan putus asa dia menemukan nama keuntungan dan Qing (perasaan manusia) serta umur panjang yang dia kejar selama hidupnya, pada akhirnya semuanya ini malah membuatnya merasakan kehampaan yang amat sangat. Maka dari itu, dengan tekad penuh dia melepaskan dan mencampakkan semua yang dia miliki lalu masuk ke dalam gunung berkultivasi tao, mencari makna kehidupan manusia yang sebenarnya.

Ketika dia berkultivasi tao, permaisuri berkali-kali mengutus orang untuk memohon kepadanya kembali ke istana, teatapi dia selalu menolak dengan alasan masih belum menyadari dao, tidak mau kembali. Akhirnya, sang permaisuri pergi menemuinya sendiri, serta memberika ultimatum kepada dirinya bahwa Raja harus mempunyai alasan yang tepat jika tidak, Raja harus segera kembali bersamanya.

Raja berkata, “Saya pernah mengejar kekuasaan, juga sudah mendapatkan kekuasaan. Pernah mengejar harta kekayaan, juga sudah mendapatkan harta kekayaan. Pernah menuntut percintaan, juga telah mendapatkan percintaan. Tetapi kemudian saya menemukan semuanya ini bagai bunga dalam cermin dan rembulan dalam air. Selanjutnya saya berpikir ingin panjang umur, tetapi walaupun semua orang meneriakkan : Hidup Baginda, Hidup Baginda, namun saya tetap saja semakin hari semakin menjadi tua.

“Kemudian saya akhirnya mengerti sekarang, memang kita dari awal sudah tidak memiliki apa-apa, kita hanya pernah menembus kekuasaan, harta kekayaan, dan percintaan itu saja, sebenarnya semua itu adalah bayangan untuk sementara saja, kita tidak pernah benar-benar memiliki benda-benda (kekuasaan, harta kekayaan dan percintaan) itu. Kalau kesemuanya ini hanyalah angan-angan saja, maka sejak awal semua itu kekosongan belaka, mengapa saya masih harus pulang ke istana?”

Permaisuri setelah mendengar langsung perkataan yang diucapkan oleh Raja segera tahu keputusan yang telah diambilnya, dia terpaksa meninggalkan sang Raja dan pergi dengan kesedihan.